Ciremai 3078 mdpl #2: Turun Gunung Malam-Malam

Terima kasih sudah menunggu. Selamat datang kembali.

Hello, its me~ Biar dikira Adele

Malam minggu itu aku menghabiskan waktu di dalam tenda. Setelah kenyang makan indomie, jam 20.30 kami tidur beralaskan matras dan sleeping bag dengan posisi menurun. Kaki kami lebih rendah daripada kepala, hehehe, tendanya miring sodara-sodara. Sebelumnya, Bagus sudah berpesan bahwa kami akan memulai perjalanan ke puncak pada pukul 03.00.

Tepat pukul 02.30, aku menyenggol Ridho, lalu Ridho menyenggol Farhan, lalu Farhan menyenggol Bagus lalu goal, mengingatkannya untuk bangun dan siap-siap melanjutkan perjalanan. Karena ternyata semuanya tidak bisa tidur, akhirnya kami berhasil memulai perjalanan pukul 03.00, Sesuai rencana, perjalanan menuju puncak tidak disertai tarian seperti Mawar AFI dkk. Tidak usah dijelaskan ya kenapa tidak menari, intinya, berjalan biasa saja sudah terseok-seok, apalagi sambil menari?

Di tengah perjalanan kami berhenti di pos 5 untuk sholat subuh, sebenarnya sebelum pos 5 juga berhenti beberapa kali untuk minum, minumpahkan rasa lelah. Berjalan ke puncak di tengah kegelapan sangat susah, tapi aku sih merasa biasa saja, biasa terseok-seok! Akhirnya pukul 07.30 kami sampai di puncak. Seperti yang dilakukan pendaki-pendaki lain, kami langsung menyeduh minuman hangat dan foto-foto dengan berbagai gaya. Sayang sekali aku malah lupa untuk menari shuffle dance dan Gangnam style, padahal sudah jadi angan-angan dari dalam tenda lho. Ingatnya tuh di sini (di Jogja) :)))

AsRwKnskBpbpxgeDeXBpemykwhMueOUedbPamflPNX-C Continue reading “Ciremai 3078 mdpl #2: Turun Gunung Malam-Malam”

Advertisements

Tamalsia #3: Phuket

Perjalanan malam yang panjang menggunakan kereta api dari Bangkok menuju Surathani sangat membosankan. Apalagi saya duduk di gerbong yang isinya cumang orang-orang lokal, alias orang Thailand yang nggak bisa berbahasa Inggris. Jadilah saya cumang membaca buku, cengar-cengir, dan tidur tentunya. Karena ketika kita naik kereta malam, kita sedang melewati area in the middle of nowhere -.- Continue reading “Tamalsia #3: Phuket”

Tamalsia #2: Masih Bangkok

Cerita sebelumnya di sininull
P1070236

Menginap di Sawasde Inn itu nyaman dan aman. Karena pintu kamar selalu akan terkunci kalau ditutup, sampai-sampai saya kekunci dari luar karena lupa membawa kunci kamar pas ke kamar mandi 😐
Jumat
Sebagai seorang muslim laki-laki yang gahul, saya harus jumatan dong. Jadilah Jumat pagi itu saya gunakan untuk nukar uang dan cari masjid. Menurut buku (buku panduan) yang saya ikuti, masjid terdekat dari tempat menginap saya adalah Masjid Chakrabongse. Peta di buku sih menunjukkan kalau letak masjidnya dekat dan nggak rumit, tapi ternyata tetep dekat tetapi rumit. Masjidnya itu berlokasi di sebuah gang super sempit dan dari jalan raya nggak kelihatan kalau itu gang. Wajarlah saya nggak nemu dengan mulus.
Continue reading “Tamalsia #2: Masih Bangkok”

Tamalsia #1: Bangkok

Hai kawan, kali ini saya mau cerita tentang perjalanan saya kemarin. Perjalanan ini saya namakan “Tamalsia,” plesetan dari “tamasia.” Tamalsia adalah Thailand-Malaysia-Singapura. Selama 10 hari saya menjelajah Thailand, Malaysia, dan Singapura seorang diri. Ya, saya melakukan solotraveling, sebuah angan-angan tahun lalu yaitu ingin melakukan solotraveling. Sebenarnya agak grogi juga sih kemarin, secara saya baru pertama kali ke luar negeri, sendirian pula. Solotraveling yang saya lakukan adalah lebih karena keterpaksaan, gak punya/dapet temen jalan, hehehe. Continue reading “Tamalsia #1: Bangkok”

Solopedisi #2

Tulisan ini lanjutan Solopedisi #1. Cekidot

Menyusuri Jalan Slamet Riyadi

Salah satu Tim Solopedisi bilang bahwa jarak dari Purwosari ke Ps. Klewer hanya 20 menit. Ngap! Jarak 20 menit itu ditempuh dengan mengendarai motor. Kalo jalan kaki bisa sampai hampir satu jam, dan itu sudah kami buktikan kemarin. So, gak semua yang kamu dengar itu benar. Dibutuhkan data-data penunjang dan kalo perlu dibuktikan saja seperti yang kami lakukan. Continue reading “Solopedisi #2”

Solopedisi #1

Sebuah perjalanan akan terasa sangat asyik dan menyenangkan ketika dilakukan bersama-sama. Bersama kawan, bersama keluarga, tetapi tidak bersama lawan. Berjalan bersama kawan akan terasa seru, asyik, apa adanya, rame, dan berani dengan mengesampingkan sebentar beberapa norma-norma yang biasa berlaku. Sedangkan berjalan bersama keluarga akan terasa harmonis, santun, dan gratis, hehehe. Kalau berjalan bersama lawan, itu namanya senggol-senggolan :p

Ciyus? Miapah? Mirante! Continue reading “Solopedisi #1”

Nongton Film Anak

Hari ini saya, Umam (Ceria), Yasir (Ceria), Seto (PCMI Jogja), dan Mbak Icha (Ceria/PCMI Jogja) pergi nongton screening film “Aku, masa depanmu Indonesia!” di Gedung Societet TBY. Sebenarnya tujuan utama kami datang ke sana bukan untuk nognton sih, melainkan untuk dapatin tas cantik hahahaha ya bukan layau. Tujuan kami datang ke sana adalah untuk bisa ngobrol sama teman-teman Yayasan Kampung Halaman, yang bersama ILO menggelar acara screening film ini. Oya, yang bikin filmnya itu anak-anaknya lho, bukan teman-teman Yayasan Kampung Halaman (YKH). Yayasan Kampung Halaman cuma menfasilitasi aja. Continue reading “Nongton Film Anak”

Klakson

gambar: neatoshop.com

Suaranya nyaring, ada yang berbunyi “din din”, “tot tot”, “ngong ngong”, bahkan “oek oek.” Semua kendaraan bermotor umumnya mempunyai klakson, mulai dari sepeda sampai truk trailer semuanya punya klakson sebagai “mulut” kendaraan tersebut. Klakson membuat si pengendara bisa memberitahu kendaraan atau orang di depannya bahwa dia ada di belakang mereka, atau dapat juga diinterpretasikan bahwa dia mau lewat.

Penggunaan klakson juga erat dengan etika berkendara lho. Karena membunyikan klakson itu ibarat kentut di jamuan makan malam oleh seorang diplomat, hehehe. Maksud saya membunyikan klakson itu harus dilakukan di saat yang tepat. Contoh, waktu kita sedang melaju di tikungan yang tajam yang gak kelihatan ada kendaraan lain di ujung tikungan. Atau ketika kita mau mendahului kendaraan di depan kita. Daripada kita membahayakan diri sendiri maupun orang lain, lebih baik kan kita membunyikan klakson? Continue reading “Klakson”

KP #5: The Awkward Moment

Woyooooo! Serial KP kali ini akan berkisah tentang beberapa kejadian unik, kejadian mengagetkan, dan kejadian bikin kagum yang saya alami selama KP. Hoke tanpa basa-basi, yuk mari…

What?!

1. Ada beruk hampir masuk kamar! [kaget]

Kejadian ini berawal ketika Fajar sedang bersantai sore sambil memberi makan beberapa ekor beruk dari jendela kamar. Awalnya sih acara makan-makan berjalan damai, sampai saat Fajar pergi keluar kamar dan menaruh begitu saja makanan yang tadi dibagikan kepada teman-temannya (beruk-red) di atas bantalnya (posisi bantalnya = deket jendela). Saat itu saya  main game sendirian di kamar di laptop Fajar, dan tiba-tiba ada seekor beruk yang berbadan binaragawan berusaha meraih makanan yang ditaruh di atas Continue reading “KP #5: The Awkward Moment”

KP #3: Bontang Kuala, Kelurahan di Atas Laut

“Wan, jam berapa kita nanti ke Bontang Kuala?”

“Gak tau mas, aku ngikut Herman aja”

“Oh gitu, oke nanti kabarin aku ya jadinya jam berapa”

“Ok mas”

Itulah penggalan percakapan saya dengan Arwan, siswa PKL yang satu mess dengan kami. Kami memang sudah janjian mau ke Bontang Kuala (BK) malam minggu kemarin. Kata Herman kalo malam minggu di BK sangat rame dan bagus. Benar saja, pas saya ke sana di BK memang rame, Continue reading “KP #3: Bontang Kuala, Kelurahan di Atas Laut”